MAKALAH MANAJEMEN KEUANGAN LANJUTAN
“Capital Structure”
Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah
Manajemen Keuangan Lanjutan
Dosen Pengajar Nurdin, SE.,MSi.
Disusun
oleh:
Silmi
Millatina 10090311180
Manajemen kelas B
FAKULTAS EKONOMI MANAJEMEN
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun sampaikan kehadirat
Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Capital Structure. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas
UAS matakuliah Manajemen Keuangan Lanjutan.
Penyusun mengucapkan terimakasih banyak kepada semua pihak
yang membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penyusun mengharapkan kritikdan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi kepada para pembaca dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa khususnya mengenai Manajemen Keuangan mengenai
capital structure.
Bandung, 11Juni 2013
Penyusun
PERSEMBAHAN
Denganmengucapkansyukur Alhamdulillah,
sayapersembahkankaryakeciliniuntuk orang-orang yang sayasayangi:
·
Ayah ibundatercinta, motivator
terbesardalamhidupsaya yang takpernahjemumendaoakandanmenyayangi,
atassemuapengorbanandankesabaranmengntarkansayasampaikini. Takpernahcukupsayamembalascinta
ayah bunda.
·
DosenManajemenKeuanganBapakNurdin,
SE.,M.Si yang selalumemberikanmateri yang bergunauntukmemenuhitugasakhir
semester 4. Tanpabimbingannyatugasinitidakakanterselesaikan.
·
Teman-temansayaVola, Faridah yang
selalusetiamendengarkankeluhandanselalumemberikanmasukanmengenaitugasini.
·
TerimakasihkepadaFebyNugraha yang
selalumensuportsayauntukmengerjakantugasmakalahini.
·
Nabi Muhammad SAW yang
telahmemimpinumatislamhinggaakhirhayatdanmenjadipedomanumatislam.
·
Tuhankita Allah SWT yang telahmemberikanrahmatdankarunianyasehinggamakalahinidapatterselesaikantepatwaktupadawaktunya.
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR i
HALAMAN PERSEMBAHANii
DAFTAR ISIiii
BAB I PENDAHULUAN
1.1
LatarBelakangMasalah
1
1.2 Identifikasi Masalah 2
1.3 TujuanPenulisan 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Modal danStruktur Modal 3
2.2 TeoriStruktur Modal 3
2.3Faktor-Faktor
yang MempengaruhiStruktur Modal7
2.4Jenis-Jenis Modal 8
2.5KomponenStruktur Modal 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 11
3.2
Saran 11
DAFTAR
PUSTAKA12
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah
satu keputusan penting yang dihadapi oleh manager keuangan dalam kaitannya
dengan operasional perusahaan adalah keputusan atas Struktur Modal, yaitu
keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi utang, saham prefen dan
saham biasa yang harus digunakan oleh perusahaan.
Keputusan
Struktur Modal secara langsung berpengaruh
terhadap besarnya risiko yang
ditanggung pemegang saham beserta besarnya tingkat pengembalian atau tingkat keuntungan yang diharapkan.
Keputusan
Struktur Modal yang diambil oleh manager
tersebut tidak saja berpengaruh terhadap profitalitas perusahaan , tetapi juga
berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
Struktur
Modal merupakan pilihan pendanaan antara utang dan ekuitas. Teori yang
menjelaskan hal tersebut antara lain Teori Trade-Off, Teori Pecking Order, dan
Teori lainnya.
Sturktur
modal termasuk dalam lingkup keputusan pendanaan. Bidang keputusan ini
berkaitan dengan sisi kiri neraca.
Secara
umum perusahaan dapat memilih di antara banyak struktur modal alternative.
Pilihan tersebut bisa di misalkan misalnya dengan cara mengeluarkan sejumlah
sekuritas hutang atau sebaliknya hanya melibatkan hutang yang sedkit. Hal
tersebut juga dapat dilakukan dengan cara menerbitkan saham biasa, saham
preferen dengan bunga mengambang, waran, obligasi konversi, sewa guna usaha,
kontrak forward, atau sejumlah
ekuritas syariah.
Karena
jumlah instrument keuangan yang
relative banyak, maka variasi dalam stuktur modal juga menjadi tidak terbatas.
Oleh karea itu dengan pertimbangan untuk mempermudah analisis dan
menyederhanakan ilustrasi maka makalah ini hanya berfocus pada saham biasa,
obligasi, dan sumber dana jangka panjang lainnya.
1.2 Identifikasi Masalah
Dalam
tulisan ini, Penulis akan membahas dan berfokus pada :
1. Apa
pengertian modal dan struktur modal itu sendiri?
2. Bagaimana
pendapat atau teori-teori tentang struktur modal?
3. Apa
saja faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Struktur Modal?
4. Apa
saja jenis-jenis modal?
5. Apa
yang menjadi komponen struktur modal?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
Untuk
mengetahui faktor faktor apa saja yang paling mempengaruhi dalam pengambilan
Keputusan Struktur Modal suatu
perusahaan.
BAB II
PENGERTIAN DAN TEORI
STRUKTUR MODAL
Untuk
mengetahui Pengertian Struktur Modal, maka dengan ini dapat dijelaskan tentang
Definsi Modal dan Definisi Strukutur Modal sebagai berikut :
2.1. Pengertian Modal dan
Struktur Modal
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh
pemilik perusahaan dalam pos modal
(modal saham), keuntungan atau laba yang ditahan atau kelebihan aktiva
yang dimiliki perusahaan terhadap seluruh utangnya (Munawir,2001).
Modal
pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu modal Aktif (Debet) dan modal Pasif
(Kredit).
Struktur Modal adalah perimbangan
atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri. Modal asing diartikan
dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka pendek.
Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan
penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur
Modal merupakan masalah penting dalam pengambilan keputusan mengenai
pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur Modal tersebut maka dapat
digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur Modal dalam suatu
Perusahaan.
2.2. Teori Struktur Modal
·
Teori Pendekatan
Tradisional
Pendekatan
Tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang optimal. Artinya
Struktur Modal mempunyai pengaruh terhadap Nilai Perusahaan, dimana Struktur
Modal dapat berubah-ubah agar bisa diperoleh nilai perusahaan yang optimal.
·
Teori Pendekatan Modigliani
dan Miller
Dalam
teori ini berpendapat bahwa Struktur Modal tidak mempengaruhi Perusahaan. Dalam
hal ini telah dimasukkan faktor pajak. Sehingga nilai Perusahaan dengan hutang
lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahan tanpa hutang, Kenaikan
tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak.
·
Teori Trade-Off dalam
Struktur Modal
Dalam
kenyataan, ada hal-hal yang membuat perusahaan tidak bisa menggunakan hutang
sebanyak banyaknya. Suatu hal yang terpenting adalah dengan semakin tingginya
hutang, akan semakin tinggi kemungkinan kebangkrutan. Biaya kebangkrutan
tersebut bisa cukup signifikan. Biaya tersebut terdiri dari 2 (dua) hal, yaitu
:
a. Biaya
Langsung
Yaitu, biaya yang dikeluarkan untuk membayar biaya
administrasi, atau biaya lainnya yang sejenis.
b. Biaya
Tidak Langsung
Yaitu, biaya yang terjadi karena dalam kondisi
kebangkrutan, perusahaan lain atau pihak lain tidak mau berhubungan dengan perusahaan
secara normal. Misalnya Suplier tidak akan mau
memasok barang karena mengkwatirkan kemungkinan tidak akan membayar.
Biaya
lain dari peningkatan hutang adalah meningkatnya biaya keagenan antara pemegang
hutang dengan pemegang saham akan meningkat, karena potensi kerugian yang
dialami oleh pemegang hutang akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan.
Pengawasan bisa dilakukan dalam bentuk biaya biaya monitoring (Persyaratan yang
lebih ketat) dan bisa dalam bentuk kenaikan tingkat bunga
·
Teori Pecking Order
Teori
Trade-Off mempunyai implikasi bahwa manager akan berfikir dalam kerangka
trade-off antara penghematan pajak dan biaya kebangkrutan dalam penentuan
Struktur Modal. Dalam kenyataan empiris nampaknya jarang manager keuangan yang
berfikir demikian.
Secara
spesifik, perusahaan mempunyai urutan-urutan prefensi dalam penggunaan dana.
Skenario urutan dalam Teori Pecking Order adalah sebagai berikut :
a. Perusahaan
memilih pandangan internal. Dana internal tersebut diperoleh dari laba
(keuntungan) yang dihasilkan dari kegiatan perusahaan.
b. Perusahaan
menhitung target rasio pembayaran didasarkan pada perkiraan kesempatan
investasi.
c. Karena
kebijakan deviden yang konstan, digabung dengan fluktuasi keuntungan dan
kesempatan investasi yang tidak bisa diprediksi, akan menyebabkan aliran
kas yang diterima oleh perusahaan akan lebih besar dibandingkan dengan
pengeluaran investasi pada saat saat tertentu dan akan lebih kecil
pada saat yang lain.
d. Jika
padangan eksternal diperlukan, perusahaan akan mengeluarkan surat berharga yang
paling aman terlebih dulu. Perusahaan akan memulai dengan hutang,
kemudian dengan surat berharga campuran seperti obligasi konvertibel, dan
kemudian barangkali saham sebagai pilihan terakhir.
Teori
Pecking Order ini bisa menjelaskan mengapa perusahaan yang mempunyai tingkat
keuntungan yang lebih tinggi justru mempunyai tingkat hutang yang lebih kecil.
·
Teori Asimetri Informasi
dan Signaling
Teori
ini mengatakan bahwa dalam pihak pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak mempunyai
informasi yang sama mengenai prospek dan resiko perusahaan. Pihak tertentu
mempunyai informasi yang lebih dari pihak lainnya.
Teori
ini terdiri dari Teori :
a. Myers
dan Majluf
Menurut Teori ini ada asimetri informasi antara manger
dengan pihak luar. Manager mempunyai informasi yang lebih lengkap mengenai
kondisi perusahaan dibandingan
pihak luar.
b. Signaling
Mengembangkan model dimana struktur modal (penggunaan
hutang) merupakan signal yang disampaikan oleh manager ke pasar. Jika manager mempunyai
keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar saham
tersebut meningkat, ia ingin megkomunikasikan hal tersebut kepada investor.
Manager bisa menggunakan hutang lebih banyak sebagai signal yang lebih
credible. Karena perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai
perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor
diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaan mempunyai
prospek yang baik.
Teori-teori
yang lainnya:
1. Pendekatan
Teori Keagenan (Agency Approach)
Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun untuk
mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Konflik antara pemegang
saham dengan manager adalah konsep free-cash flow. Ada kecenderungan manager ingin menahan
sumber daya sehingga mempunyai control
atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi
konflik leagenan free cash flow. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka
manager akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan untuk membayar
bunga.
2. Pendekatan
Interaksi Produk
Teori ini berangkat dari teori organisasi industri dan
relatif baru, dibandingkan dengan teori
lainnya. Ada dua kategori dalam pendekatan ini, yaitu Strategi dan Menjelaskan
hubungan antara Struktur Modal dengan karakteristik produk atau input.
3. Konteks
atas Pengendalian Perusahaan
Beberapa penemuan pendekatan ini adalah perusahaan
yang menjadi target (dalam pengambilalihan) akan meningkatkan tingkat
hutangnya, berhubungan dengan kemungkinan sukses tender offer (penawaran
terbuka pada proses pengamalihan usaha).
2.3 Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Struktur Modal
Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Struktur Modal antara lain :
1. Struktur
Aktiva (Tangibility)
Kebanyakan perusahaan industri yang sebagian besar
modalnya tertanam dalam aktiva tetap , akan mengutamakan pemenuhan modalnya
dari modal yang permanent yaitu modal sendiri, sedangkan hutang bersifat
pelengkap. Perusahaan yang semakin besar aktivanya terdiri dari aktiva lancer
akan cenderung mengutamakan pemenuhan
kebutuhan dana dengan utang. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh
struktur aktiva terhadap struktur modal suatu perusahaan.
2. Growth
Opportunity
Yaitu kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi
pada hal-hal yang menguntungkan. Teori Agency menggambarkan hubungan yang
negative antara Growth Opprtunity dan leverage. Perusahaan dengan tingkat
leverage yang tinggi cenderung akan melewatkan kesempatan dalam berinvestasi pada kesempatan investasi
yang menguntungkan.
3. Ukuran
Perusahaan (Firm Size)
Perusahaan besar cenderung akan melakukan
diversifikasi usaha lebih banyak dari pada perusahaan kecil. Oleh karena itu
kemungkinan kegagalan dalam menjalankan usaha atau kebangkrutan akan lebih kecil. Ukuran perusahaan sering
dijadikan indicator bagi kemungkinan terjadinya kebangkrutan bagi suatu
perusahaan, dimana perusahaan dalam ukuran lebih besar dipandang lebih mampu
menghadapi krisis dalam menjalankan usahanya.
4. Profitabiltas
Teori Pecking Order mengatakan bahwa perusahaan lebih
menyukai internal funding. Perusahaan
dengan frofitalitas yang tinggi tentu memiliki dana internal yang lebih banyak
dari pada perusahaan dengan profitalitas rendah.
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang
tinggi investasi menggunakan utang yang
relative kecil (Bringham & Houston, 2001).Tingkat pengembalian yang tinggi
memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana
yang dihasilkan secara internal. Hal ini menunjukkan bahwa profitalitas
berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.Semakin tinggi keuntungan yang
diperoleh berarti semakin rendah utang.
5. Risiko
Bisnis
Risiko Bisnis akan mempersulit perusahaan dalam
melaksanakan pendanaan eksternal, sehingga secara teori akan berpengaruh
negative terhadap leverage perusahaan.
2.4 Jenis-Jenis Modal
Terminonogi modal menunjukkan
sumber dana yang digunakan pada
suatu perusahaan. Modal meliputi
semua komponen di sisi pasiva pada neraca
perusahaan kecuali hutang
lancar.Modal terdiri dari modal utang dan modal
sendiri/ekuitas.
Jenis-jenis modal antara lain:
1) Modal Pinjaman, termasuk semua pinjaman jangka panjang yang
diperoleh perusahaan. Diketahui bahwa biaya modal pinjaman relatif lebih rendah
dibandingkan dengan bentuk pinjaman lainnya, hal ini disebabkan karena mereka
memperoleh risiko yang relatif kecil atas segala jenis modal jangka panjang,
seperti:
a)
Pemegang
modal pinjaman mempunyai prioritas terhadap pembayaran bunga atas
pinjaman atau terhadap aset yang akan dijual untuk membayar utang.
b)
Pemegang
modal pinjaman mempunyai kekuatan hukum atas pembayaran hutang dibandingkan
dengan pemegang saham preferen atau saham biasa.
c)
Bunga
pinjaman merupakan biaya yang dapat mengurangi pajak sehingga biaya modal
pinjaman yang sebenarnya secara substansial menjadi lebih rendah.
2) Modal Sendiri/Ekuitas, merupakan modal jangka panjang yang
diperoleh dari pemilik perusahaan/pemegang saham. Modal sendiri diharapkan
tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak terbatas sedangkan
modal pinjaman mempunyai jatuh tempo. Ada dua sumber utama modal sendiri,
yaitu:
Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas modal
sendiri dapat dibagi menjadi:
A.
Modal saham
Menurut Dahlan Siamat (2005:507) saham
adalah: Surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada perseroan
terbatas.Secara sederhana saham dapat didefinisikan sebagai tanda
penyertaan/pemilikan seseorang/badan dalam suatu perusahaan. Dalam transaksi
jual beli di Bursa Efek,saham merupakan instrumen yang paling dominan
diperdagangkan.
1.
Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah
bentuk komponen modal jangka panjang yang ditanamkan oleh investor, dengan
memiliki saham ini berarti ia membeli prospek dan siap menanggung segala risiko
sebesar dana yang ditanamkan.
2.
Saham Preferen (Preferred Stock)
Saham preferen
bentuk komponen modal jangka panjang yang merupakan kombinasi antara modal
sendiri dengan hutang jangka panjang.
B.
Keuntungan (laba)
yang ditahan
Laba yang ditahan adalah bagian laba yang ditanam
kembali dalam perusahaan. Laba yang diperoleh tidak semuanya dibagikan kepada
para pemilik (pemegang saham) sebagai dividen, tetapi sebagian akan ditahan dan
ditanamkan kembali dalam perusahaan untuk membiayai keperluan perusahaan.
2.5 Komponen Struktur Modal
Komponen-komponen struktur modal adalah (Bambang
Riyanto, 2002:238 dalam penelitian Dedy Setyo, 2007).
1. Modal asing atau modal jangka
panjang
Yaitu
hutang yang jangka waktunya pada umumnya lebih dari lima tahun.
Hutang jangka panjang ini pada umumnya digunakan untuk membelanjai
perluasan perusahaan (ekspansi) atau modernisasi dari perusahaan
karena kebutuhan modal untuk keperluan tersebut meliputi jumlah yang besar.
Jenis – jenis hutang jangka panjang adalah :
A.
Obligasi atau bonds adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi
kontrak jangka panjang antara pemberi pinjaman dengan yang diberi pinjaman.
Dimana peminjam dana setuju untuk membayar bunga dan pokok pinjaman, pada
tanggal tertentu kepada pemegang obligasi. Obligasi berdasarkan jenisnya yaitu
:
a.
Obligasi bunga
tetap ( fixed rate bond)
Obligasi yang menawarkan bunga tetap
selama jangka waktu obligasi tersebut ( di Indonesia biasanya berjangka waktu
lima tahun ). Bunga yang dibayarkan mungkin dilakukan setahun sekali, tetapi
bisa juga dilakukan setiap semester ( 6 bulan).
b.
Obligasi bunga mengambang (floating rate bond)
Obligasi yang
pembayaran bunganya tidak tetap dan disesuaikan dengan tingkat bunga pasar
secara berkala. Penentuan tingkat bunga obligasi misal didasarkan pada
tingkat bunga rata – rata deposito berjangka ditambah sejumlah
persentase tertentu di atas rata – rata tingkat bunga deposito tersebut.
c.
Obligasi tanpa
bunga ( zero coupon bond)
Obligasi jenis ini dijual dengan harga
yang lebih rendah daripada nilai nominal obligasinya (discounted basis)
pada saat jatuh tempo, obligasi tersebut dilunasi sesuai dengan nilai nominalnya.
d.
Obligasi konversi
Sekilas tidak ada bedanya dengan
obligasi biasa yaitu memberikan coupon yang tetap, memiliki jatuh tempo dan
memiliki nilai pari. Hanya saja obligasi konversi memiliki keunikan yaitu dapat
ditukarkan dengan saham biasa. Pada obligasi konversi selalu tercantum
persyaratan untuk melakukan konversi.
B.
Pinjaman Hipotik adalah bentuk hutang
jangka panjang dengan aktiva tidak bergerak dimana kreditur diberi hak hipotik
terhadap aktiva tersebut artinya apabila debitur tidak memenuhi kewajibannya
maka barang jaminan tersebut dapat untuk menutupi utangnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
uraian yang telah
di tulis maka dapat
diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Bahwa
Struktur Aktiva (Tangibility),Growth Opportunity, Ukuran Perusahaan (Firm
Size), Profitabiltas dan Risiko Bisnis
baik secara simultan maupun parsial mempunyai pengaruh pada Keputusan Struktur
Modal Suatu Perusahaan.
2. Dari faktor-faktort tersebut mempunyai pengaruh satu dengan yang
lainnya. Sehing dengan demikian Para Investor, Kreditor maupun Managemen
Perusahaan hendaknya memberikan
perhatian yang lebih kepada informasi atas faktor-faktor yang mempengaruhi
tersebut.
3.2 Saran
Seorang manajer harus teliti dalam membuat Keputusan
Struktur Modal, karena secara langsung berpengaruh terhadap besarnya risiko yang ditanggung pemegang saham beserta
besarnya tingkat pengembalian atau
tingkat keuntungan yang diharapkan.
Keputusan
Struktur Modal yang diambil oleh manager
tersebut tidak saja berpengaruh terhadap profitalitas perusahaan , tetapi juga
berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
F.
Brigham. Eugene, joel F. Houton. .2009. Fundamentals
of Financial Management. Jakarta: Salemba 4.
Agus
Sartono. 2000. Manajemen keuangan edisi 3. Yogyakarta: BPFE
Brigham
and Houston. 2006. Manajemen Keuangan
Buku 2 Edisi 8. (Penerjemah: Ali Akbar Yulianto, Jakarta: Erlangga).
Najmudin.
2011. Manajemen keuangan dan aktualisasi
syari’ah modern. Yogyakarta: Andi.
Ambarwati
Sri Dwi Ari. 2010. Manajemen Keuangan
Lanjut. Graha Ilmu.
